Hindari Karma Buruk, Ini Peringatan Budayawan Kidung Tirto dan Panembahan Surakarta

oleh -63 Dilihat
Kidung Tirto Suryo Kusumo
Kidung Tirto Suryo Kusumo

JAKARTA – Budayawan Kidung Tirto Suryo Kusumo mengingatkan para tokoh, pemimpin dan pelayan rakyat untuk selalu mawas diri atau introspeksi atas niat serta segala perilaku agar terhindar dari karma buruk yang merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Hal itu disampaikan Kidung Tirto menyikapi fenomena alam yang semakin ekstrem dan kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak negatif terhadap stabilitas ekonomi, politik dan sosial di dalam negeri sehingga menghambat upaya pemerintah mensejahterakan rakyat.

“Sikap mawas diri harus menjadi alarm bagi para tokoh, pemimpin dan pelayan rakyat, baik yang duduk di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Mereka harus mampu melihat, menganalisa, serta mengoreksi diri sendiri secara jujur mengenai pikiran, perasaan, dan perbuatan yang akan dilakukan. Sikap mawas diri akan melahirkan kebijaksanaan dalam memimpin atau menjalankan tugas,” ujar Kidung Tirto saat dihubungi dari petilasan di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, Minggu (2/8/2026).

Menurut spiritualis asal Gunung Lawu ini, seseorang yang tidak mau mawas diri atau sombong akan menerima karma atau respon dari lingkungannya, baik secara spontan ataupun di masa mendatang.

‘Karma adalah hukum sebab-akibat universal. Artinya, setiap pikiran, ucapan, dan tindakan akan membawa konsekuensi atau energi yang pasti kembali kepada pelaku, baik dalam kehidupan sekarang maupun masa depan,” jelas Kidung Tirto.

Dia mengatakan, setiap perbuatan pasti diawali dari niat atau motif. Niat memegang peranan paling besar dalam menentukan jenis energi karma yang tercipta. Niat buruk akan melahirkan energi buruk, begitu juga sebaliknya. “Apa yang Anda tanam, itulah yang akan Anda tuai. Kebaikan mendatangkan energi baik, keburukan memicu penderitaan,” kata Kidung Tirto.

Dia mengatakan, secara awam. karma sering kali disamakan dengan hukuman dari Tuhan. Padahal, karma adalah mekanisme kesadaran dan keseimbangan alam semesta yang pasti akan terjadi.

“Karma adalah respons alam atau lingkungan atas niat dan perilaku seseorang. Artinya, karma pasti berlaku secara alami karena alam semesta selalu menjaga mekanisme keseimbangan. Karma pasti menimpa manusia yang tidak percaya Tuhan atau atheis sekalipun,” tegas Kidung Tirto.

Sebagai contoh, niat mencuri atau korupsi akan memicu energi negatif, seperti berbohong, memanipulasi dan sebagainya. Ketika korupsi dilakukan, energi negatifnya makin kuat misalnya melalui gaya hidup hedon dan sombong sehingga lingkungan akan merespons ketika menyadari adanya ketidakadilan.

Pesan Panembahan Surakarta

Peringatan senada juga disampaikan oleh panembahan Surakarta Kanjeng Pangeran MM Notonegoro. Dia mengingatkan agar pejabat publik di segala tingkatan perlu selalu mawas diri sebagai wujud kewaspadaan.

Dia mengatakan filosofi hidup Jawa dalam mencapai kebenaran dan ketenteraman batin berporos pada tiga keselarasan utama, yaitu tata ati (penataan hati/batin), tata pikir (penataan pikiran/nalar), dan tata laku (penataan tindakan/perilaku).

“Ketiganya merupakan satu kesatuan utuh dalam ajaran mawas diri atau mulat sarira. Dalam kehidupan saat ini mulat sarira mempunyai arti mendalam dari sekedar eling lan waspada,” ujar Kanjeng Pangeran MM Notonegoro dari petilasannya di Pesanggrahan Pacimoharjo di lereng Gunung Merapi, Desa Paras, Cepogo, Boyolali.

Kanjeng Pangeran MM Notonegoro. (tengah).

Dia juga mengingatkan agar para pemimpin jangan asal ngomong yang dapat menyakiti hati rakyat. “Rakyat memang tidak punya kuasa apa-apa untuk membalasnya. Tetapi Gusti mboten sare dan alam semesta akan selalu mencari keseimbangan karena energi yang dilepaskan oleh pemimpin atau penguasa memberikan muatan negatif yang secara hukum alam semesta akan otomatis diseimbangkan. Jadi bukan hanya karma saja. Karena orang yang ditindas akan memancarkan energi penderitaannya sebagai kutukan yang berakibat tidak baik,” ungkapnya.

Untuk itu, menurut dia, toto pikir, toto ati dan toto laku harus menjadi hal penting untuk menghindari bencana dan petaka yang lebih buruk terhadap bangsa dan negara.

Dia melihat suhu politik sudah mulai mendidih tinggal menunggu waktu dan saatnya. Untuk itu diingatkan sekali lagi agar para penguasa jangan sampai salah langkah. Harus hati-hati, intropeksi dan jangan salah langkah sehingga rakyat tercederai.

Panembagan Surakarta Kanjeng Pangeran MM Notonegoro tetap melakukan tirakat dan mendoakan agar bangsa dan negara ini selamat dan berjaya.

Jaga Persatuan

Kidung Tirto juga berpesan kepada seluruh anak bangsa untuk mempertebal persatuan dan saling welas asih di tengah kondisi global yang penuh tantangan dan ketidakpastian saat ini.

“Gejolak global bisa mempengaruhi situasi di dalam negeri. Karena itu, bangsa Indonesia harus kompak, jangan hanyut dalam gelombang krisis global dan termakan isu atau hoax yang memecah belah bangsa,” ucapnya.

Menurut Kidung Tirto, budaya nusantara telah mengajarkan filosofi persatuan yang tercermin dari nilai-nilai luhur dalam Pancasila.

“Dalam filosofi Jawa juga diajarkan konsep persatuan yang sangat mendalam, yakni golong gilig, rukun agawe sentosa crah agawe bubrah, manunggal kawula gusti, gotong royong, dan hamemayu hayuning bawana,” ungkapnya

Kidung Tirto menjelaskan, golong gilig adalah lambang tekad yang bulat (golong) dan bersatu padu secara kokoh (gilog) untuk mencapai satu tujuan bersama tanpa terpecah belah.

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, yakni prinsip bahwa hidup rukun dan berdampingan akan membawa kekuatan serta kesejahteraan, sedangkan pertengkaran atau perpecahan akan menghancurkan tatanan.

Adapun manunggaling kawula gusti adalah konsep penyatuan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta yang juga mencerminkan keselarasan horisontal antara rakyat dan pemimpin dalam hubungan yang harmonis.

Selanjutnya gotong royong, yakni semangat kerja bersama dan saling membantu tanpa pamrih yang menjadi fondasi tindakan nyata persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun hamemayu hayuning bawana berarti kewajiban manusia untuk memperindah, menjaga, dan merawat keselamatan serta kedamaian dunia melalui sikap selaras dengan alam dan sesama.