Waspada! Kidung Tirto dan Budayawan Surakarta Ungkap Ramalan Jayabaya atas Kondisi Nusantara Saat Ini

oleh -19 Dilihat
Budayawan Kidung Tirto dan budayawan Surakarta KPH MM Notonagoro. (ist)

JAKARTA – Dalam keheningan setelah melewati Bulan Suro, budayawan nusantara Kidung Tirto Suryo Kusumo dan budayawan Surakarta Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) MM Notonagoro kembali bertemu guna menelisik situasi jagad semesta Nusantara yang terlihat tenang tapi penuh bara yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Menurut analisis kebatinan kedua budayawan tersebut, menelisik kondisi Nusantara tentunya tidak terlepas dari Delapan Ramalan Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri  yang hingga saat ini dinilai masih sangat relevan.

Salah satu dari Delapan Ramalan Joyoboyo tentang Nusantara yang dipercaya sakti dan relevan dengan kondisi negara kita saat ini, yakni tikus pithi anoto baris. Tikus pithi adalah simbol dari rakyat jelata yang memiliki angan-angan dan cita-cita untuk meraih mimpi, ungkap Kidung Tirto dan KPH MM Notonagoro dalam pernyataan bersama, Senin (3/8/2026).

Namun, mereka menyebut mimpi rakyat itu tak pernah terwujud karena ulah para elite penguasa, elite politik dan pengusaha yang korup dan bertindak semaunya sendiri. Akibatnya rakyat kecil ini kemudian bersatu mencari jalan untuk menentukan hidup mereka sendiri. Maka kemudian mereka bersatu mencari jalan sendiri untuk menggapai mimpi dan harapannya (anoto baris).

Rakyat kecil dalam bait dan syair Jayabaya digambarkan sebagai semut ireng ngendog sadjroning geni (semut hitam bertelur di dalam api). Ini sebuah metafora yang kuat untuk menggambarkan kondisi rakyat kecil yang hidup dalam penderitaan, kemarahan, dan serta ketidakadilan sosial.

Dalam frasa ini, menurut KPH MM Notonagoro, dapat diurai menjadi beberapa entitas metafisis dimana semut ireng (semut hitam) melambangkan rakyat jelata, orang kecil, atau massa yang tak berdaya secara struktural. Hitam di sini bukan sekadar warna, melainkan simbol kerumunan, kepasifan relatif, dan posisi marginal.

Adapun geni atau api melambangkan situasi sosial-politik yang membara atas kemarahan, ketidakadilan, represi, atau struktur kekuasaan yang membakar kehidupan sehari-hari rakyat. Sementara, ngendog (bertelur) menggambarkan tindakan reproduksi, kelangsungan hidup, dan upaya meneruskan kehidupan di tengah kondisi ekstrem.

Hal itu menandakan bahwa kehidupan rakyat tetap berjalan untuk mempertahankan hidup (survive) bahkan di dalam kondisi yang seharusnya berhadapan dengan api yang dapat memusnahkan. Sikap survival ini yang pada waktu dan saatnya yang tepat akan muncul sebagai bentuk perlawanan yang tak terbendung.

Mereka menilai Ramalan Jayabaya tersebut secara kontekstual sangat sesuai dalam kondisi yang kita hadapi saat ini. Salah satunya yang sedang dialami Kejaksaan. “Untuk menanggapi kondisi masyarakat kita yang sudah semakin cerdas dan kritis, Kejaksaan atau Korps Adhyaksa yang baru saja melakukan konsolidasi dan reposisi harus cepat tanggap,” tegas Kidung Tirto dan KPH MM Notonagoro.

“Lima pejabat bintang tiga yang baru saja dilantik Jaksa Agung ST Burhanuddin harus segera sigap dan responsif untuk menindaklanjuti informasi korupsi yang disampaikan masyarakat yang sudah dalam batas muak melihat kondisi seperti dalam Ramalan Jayabaya.”

Kidung Tirto mendukung komitmen dan keberanian Jaksa Agung menangai kasus-kasus besar, seperti kasus Jiwasraya, Asabri, minyak goreng, dan perambahan hutan. Dia percaya Jaksa Agung tegas menangani kasus-kasus korupsi yang merugikan bangsa dan negara. “Korps Adhyaksa tidak saja bertindak secara hukum semata tetapi juga harus menyentuh rasa keadilan rakyat,” ujarnya.

Sebagai contoh, tutur KPH MM Notonagoro, kasus Jiwasraya mempunyai dampak kepada para pensiunan PT Garuda Indonesia dan Asabri yang tidak akan terima uang pensiun lagi.

“Begitu juga kasus batubara PLN. Selain masalah mutu under spec dan mark up harga, permasalahan perserujuan RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang lambat menyebabkan banyak perusahaan tambang batubara tidak dapat berproduksi untuk mensuplai ke PLN.  Stok terbatas tentunya harga akan naik dan rakyat yang dirugikan,” ucapnya.

Kidung Tirto dan Notonegoro mengingatkan, tim Adhyaksa di seluruh jenjang, baik di Kejaksaan Negeri, Kejaksaan Tinggi maupun Kejaksaan Agung, harus sigap dan cepat bergerak agar marwah lembaga dapat berjaya kembali untuk memgambil hati rakyat.

“Sebab konsekuensi terhadap upaya tersebut tentu tidak terlepas dari pembahasan karma dan kutuk.” tegas Kidung Tirto dan KPH MM Notonagoro menutup diskusi di Pesanggrahan Pacimoharjo, lereng Gunung Merapi, Desa Paras, Cepogo, Boyolali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.